Pledoi Arief Budiman Setelah Diberhentikan DKPP dari Jabatan Ketua KPU

Pledoi Arief Budiman Setelah Diberhentikan DKPP dari Jabatan Ketua KPU

Uncategorized

JAKARTA, KOMPAS. com – Anggota Komite Pemilihan Umum ( KPU) Arief Budiman angkat bicara ihwal penting gugatan dugaan pelanggaran etik dengan ditujukan padanya ke Dewan Kehormatan Penyelanggara Pemilu ( DKPP).

Penjelasan ini ia ungkapkan setelah DKPP memutuskan memberhentikan dirinya sebagai Ketua KPU karena sudah menemani Komisioner KPU Evi Novida Ginting Manik datang ke Pengadilan Tata laksana Negara (PTUN) untuk mengurus pemberhentiannya sebagai komisioner.

Arief menegaskan, kedatangannya ke PTUN hanya untuk memberikan dukungan sopan secara pribadi.

“Sebetulnya adalah prinsip leadership itulah yang harus dilakukan pimpinan ketika ada urusan, ada gangguan, ada peristiwa dengan mengganggu atau terjadi pada kebiasaan ini atau pada orang-orang dalam konstitusi itu, ” sebutan Arief dalam konferensi pers, Jumat (15/1/2021).

Menyuarakan juga: Arief Budiman Bantah Kerjakan Perlawanan ke DKPP karena Temani Evi Novida ke PTUN

Ia juga mengaku sudah menjelaskan dalam persidangan DKPP bahwa ia tidak menemani Evi untuk mendaftarkan gugatan ke PTUN.

Menurut Arief, gugatan Evi sudah dilayangkan dengan online bersama pihak kuasa asas pada 07. 30 WIB.

“Saya datang pengadilan kurang lebih pukul sampai di mahkamah 11. 15 siang atau dekat setengah 12. Karena saya hirau betul hari itu Jum’at menjumpai shalat Jumat, ” ujar dia.

Terkait pokok gugatan yang kedua tentang dikeluarkannya Tulisan KPU Nomor 663/SDM. 13-SD/05/KPU/VIII/2020 tanggal 18 Agustus 2020, di mana Arief diduga mengaktifkan kembali Evi sebagai Komisioner.

Menerjang hal itu, ia menjelaskan, kalau surat tersebut hanya untuk meluluskan tahu soal petikan keputusan presiden berkaitan pemberhentian Evi.

Sementara pengangkatan komisioner, kata dia, hanya bisa dilakukan oleh kepala.

Baca pula: KPU Tunjuk Ilham Saputra Siap Plt Ketua Gantikan Arief Bijaksana