Mereka yang Menjaga Idealisme serta Nilai tetapi Disingkirkan atas Nama TWK...

Mereka yang Menjaga Idealisme serta Nilai tetapi Disingkirkan atas Nama TWK…

Uncategorized

JAKARTA, KOMPAS. com – Sampai masa ini, Ita Khoiriyah tidak mengetahui secara jelas dalil dirinya tak memenuhi sarana dalam asesmen tes paham kebangsaan (TWK). Alih kehormatan kepegawaiannya menjadi aparatur sipil negara (ASN) tertunda.

Pelaksanaan TWK diatur melalui Peraturan KPK Cetakan 1 Tahun 2021 mengenai Tata Cara Pengalihan Posisi Pegawai KPK menjadi ASN.

Sementara Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang KPK tidak disebutkan pengalihan status harus meniti tes. Begitu pula dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2020 tentang Alih Status Pegawai KPK.

Akibatnya, tidak ada kepastian bagi perempuan yang akrab disapa Peraturan itu untuk bisa langgeng bekerja di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tempat ia mengabdi selama 4, 5 tahun.

Baca juga: Pembangkangan serta Omong Kosong Isu Taliban di Gedung Merah Putih KPK

Tata bergabung ke KPK pada Januari 2017 melalui program Indonesia Memanggil ke-11.

Terima kasih telah membaca Petunjuk. com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebelum bekerja di KPK, Tata aktif jadi relawan dan pegiat rumor sosial serta kemanusiaan. Kira-kira 2010, Ia pernah menjelma relawan pendamping warga Serunen yang terdampak erupsi Merapi.

Kemudian, ia aktif di Jaringan Gusdurian selama enam tahun. Tata termasuk salah satu pegiat yang membantu Alissa Satu dalam membentuk embrio Jaringan Gusdurian pada 2011.

“Waktu itu bertemu Mbak Alissa yang pula sedang mendampingi warga Serunen. Sampai akhirnya 2011 sering terlibat dalam beberapa wadah pembentukan gerakan Gusdurian, ” ujar Tata, saat berbincang dengan Petunjuk. com , Selasa (1/6/2021).

Ketika itu, hanya ada sekitar enam komunitas pencinta Gus Dur dan belum memakai tanda Jaringan Gusdurian.

Baca serupa: Novel Mengaku Sempat Percaya Firli yang Bilang TWK Hanya Petakan Pegawai

Mereka membentuk forum untuk membahas langkah-langkah untuk melanjutkan gagasan Gus Dur.

Meski Tata mengetahui sosok Gus Dur, namun ia belum mendalami gagasan dan adicita kebangsaan yang dicetuskan sebab Presiden keempat RI tersebut.

“Karena kala mendengar dan tertarik, beta baca banyak buku perkara Gus Dur, ” cakap Tata.

Kesudahannya, pada September 2012, publik tersebut mengkristalisasi pemikiran Gus Dur ke dalam sembilan nilai utama. Ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kekesatriaan dan kebajikan tradisi.

“Kami sepakat Gusdurian ini mau bergerak di wilayah kultural, gerakan politik kebangsaan namun tidak masuk dalam politik praktis, ” kata Peraturan.

Menyuarakan juga: Kisah Tata, Pegawai KPK, Seorang Gusdurian dengan Dinyatakan Tak Lolos TWK

Di dalam perjalanannya, Tata kerap terkebat dalam kerja-kerja kultural terkait isu antikorupsi. Ia sering mewakili Jaringan Gusdurian pada konsolidasi gerakan masyarakat biasa antikorupsi dan KPK.

Ketika KPK membuka rekrutmen, Tata memberanikan muncul untuk mendaftar. Setelah lolos tes, ia ditempatkan pada bidang hubungan kemasyarakatan.