Kepala Jokowi Diminta Tak Abaikan Polemik TWK KPK

Kepala Jokowi Diminta Tak Abaikan Polemik TWK KPK

Uncategorized

JAKARTA, KOMPAS. com semrawut Presiden Jokowi diminta tidak mengabaikan polemik tes paham kebangsaan Komisi Pemberantasan Manipulasi (KPK).

Lupa seorang pegawai KPK dengan dinyatakan tidak lolos TWK, Rieswin Rachwell berharap, Presiden menaruh perhatian terhadap kasus ini.

“Semoga Bapak Presiden menaruh atensi penuh terhadap upaya itu, ” kata Rieswin di konferensi pers yang diselenggarakan YLBHI, Minggu (29/8/2021).

Ia mengatakan, suatu negara tidak dapat berjalan molek tanpa pemberantasan korupsi yang benar. Hal ini berkombinasi juga dengan pelanggaran benar asasi manusia (HAM).

Apalagi, kata tempat, Komnas HAM telah menemukan adanya 11 bentuk pengingkaran HAM dalam pelaksanaan TWK KPK.

Baca juga: Presiden Dinilai Tak Perlu Tunggu Putusan MA dan MK Terkait Polemik TWK Pegawai KPK

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Negara yang melanggengkan praktik pelanggaran HAM, biasanya melanggengkan praktik korupsi juga, ” ucapnya.

Dia berpendapat, pelaksanaan TWK semata untuk menyingkirkan para personel KPK yang memiliki prinsip berbeda.

Rieswin pun mengatakan, hingga era ini ia tidak pernah tahu penilaian dalam TWK, yang membuat dirinya bersama 74 orang lainnya dinyatakan tidak lolos.

“Sampai saat ini kami masih meyakini bahwa ini adalah suatu upaya penyingkiran terhadap pegawai-pegawai KPK yang mungkin dirasa para pelaku TWK dan pelemahan ini adalah orang-orang yang kira-kira memang sulit diatur, ” ujarnya.

Baca juga: Polemik TWK KPK, Presiden Tunggu Putusan MA dan MK

Sebelumnya, Staf Khusus Presiden Bidang Hukum Dini Purwono menyampaikan, Presiden Jokowi menghormati rekomendasi Komnas HAM dan temuan ORI terkait pelaksanaan TWK pegawai KPK.

Namun, Presiden belum mau melaksanakannya. Presiden masih menunggu putusan Mahkamah Konstitusi serta Mahkamah Agung atas gugatan terhadap peralihan status personel KPK menjadi ASN. Tingkah laku ini sama seperti arahan KPK.