PPKM Jawa-Bali Diperpanjang hingga 13 September, Aturan Kembali Diubah

PPKM Jawa-Bali Diperpanjang hingga 13 September, Aturan Kembali Diubah

Uncategorized

JAKARTA, KOMPAS. com – Pemerintah kembali melanjutkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Klub (PPKM) Level 2-4 dalam Jawa dan Bali untuk menekan penyebaran virus corona pada Senin (6/9/2021).

Kebijakan PPKM Tangga 2-4 di Jawa & Bali diperpanjang hingga 13 September 2021.

Keputusan tersebut diumumkan Gajah Koordinator Bidang Kemaritiman & Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan pada Senin (6/9/2021) malam.

“Seiring secara kondisi situasi Covid-19 dengan makin baik, serta pelaksanaan protokol kesehatan dan penerapan aplikasi PeduliLindungi yang terus berjalan ada beberapa habituasi aktivitas masyarakat yang mampu dilakukan dalam periode 7-13 September ini, ” ujar Luhut.

Menyuarakan juga: Epidemiolog: Selama Pandemi Covid-19 Masih Ada, PPKM Akan Tetap Ada

Dengan begitu, akan ada penyesuaian sebanyak kebijakan, seperti perubahan dalam aturan tempat ibadah, restoran, dan mal/pusat perbelanjaan.

“Pertama, penyesuaian zaman makan atau dine in di dalam mal jadi 60 menit, dengan kapasitas 50 persen, ” perkataan Luhut.

Dapatkan informasi, inspirasi & insight di email kamu.
Daftarkan email

Kemudian, Luhut melanjutkan, hendak ada uji coba introduksi 20 tempat wisata dalam kota dengan status level 3.

“Dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dan implementasi platform PeduliLindungi, ” kata tempat.

Kemudian, tempat wisata di kabupaten/kota level 2 juga akan diwajibkan memakai platform PeduliLindungi.

Penyesuaian aturan ini dengan lebih detail akan diatur dalam Instruksi Menteri Pada Negeri.

[embedded content]

Baca juga: LIVE STREAMING: Pemerintah Kembali Umumkan Kelanjutan PPKM

Negeri tercatat telah beberapa kali memperpanjang kebijakan PPKM buat menekan penyebaran virus corona.

Kebijakan yang lebih ketat diberlakukan era pemerintah memberlakukan PPKM Genting pada 3-20 Juli 2021.

Kebijakan PPKM Darurat itu diputuskan saat Indonesia mengalami lonjakan agung kasus Covid-19.

Saat itu, ledakan urusan tidak diiringi dengan perubahan fasilitas kesehatan atau sendi sakit, akibatnya angka kematian akibat Covid-19 juga mulia.