Membaca 70 Tahun Hubungan Indonesia-China, Pilar Stabilitas Kawasan

Membaca 70 Tahun Hubungan Indonesia-China, Pilar Stabilitas Kawasan

Uncategorized

HUBUNGAN diplomatik Indonesia dan China sudah mengambil usia 70 tahun. Selama masa waktu tersebut, hubungan keduanya banyak mengalami pasang surut.

Meski sama-sama pernah mengalami masa-masa sulit, setidaknya dalam 20 belakang, hubungan Indonesia dan China berjalan stabil, bahkan terus meningkat.

Selanjutnya, selama kurun masa beberapa dekade terakhir, Indonesia banyak mengalami perubahan, begitu pula dengan China.

Kita (Indonesia) menjadi sebuah emerging market economy dengan produk domestik bruto (PDB) lebih dari 1 triliun dollar AS dan berada pada peringkat 16 terbesar di dunia. Jumlah kelas menengah di Indonesia sudah menjadi jauh lebih besar, bertentangan dengan zaman dahulu yang sarat dengan kemiskinan.

Ekonomi China pun telah berubah. Saat ini, China menjadi salah satu ekonomi terbesar dunia. Pada bagian tersebut, ada kontribusi Indonesia. Secara langsung ataupun tidak, Indonesia menjadi kekuatan regional China yang menjadikannya Negeri kuat di dunia.

Hubungan Indonesia-China menjadi pilar stabilitas kawasan karena keduanya dapat silih memenuhi kebutuhan yang sangat relevan.

Bahkan, hubungan itu menjadi satu diantara yang paling transformatif di Asia. Dilihat dari riwayatnya, kedua negara sempat tidak mempunyai hubungan, kemudian hubungan sempat dibekukan, dan akhirnya sekarang telah menjadi sebuah kemitraan strategis komprehensif dengan sangat kontras.

Biar belum menjadi superpower seperti AS, China merupakan negara yang memiliki efek terbesar dan berdampak bagi dunia. Ekonomi China dan kebijakan-kebijakannya telah membawa dampak besar bagi internasional.

Sebagai contoh, era krisis moneter 2008, kebijakan China telah membantu dunia dari resesi.

Saat ini, China juga semakin gencar mengeluarkan kebijakan-kebijakan terkait perubahan iklim. Hal ini telah membawa perubahan yang benar besar dalam dinamika diplomasi.

China terus berupaya merangkul Indonesia. Mengapa demikian? Sebab, Nusantara dipandang memiliki kekuatan regional pada kawasan paling dekat dengan China, yakni Asia Tenggara.

Di Indonesia, pada Oktober 2013, Presiden China Xi Jinping membentangkan kebijakan One Belt One Road (OBOR) di depan DPR MENODAI. Ini menjadi sinyal yang sahih sekali bahwa China memandang gaya Indonesia sebagai suatu hal istimewa bagi kebijakan internasionalnya.

Perubahan penting

Dalam 70 tahun hubungan diplomatik, ada sejumlah perubahan penting yang terjadi. Pertama, China saat ini telah menjadi pemain besar, baik bilateral maupun dalam hubungan dengan zona Asia Tenggara.

China juga sudah menjadi the most impactful country bagi Indonesia. Market-nya begitu besar di Indonesia, begitu pula trading partner, yang menjadikan China nomor satu di negara ini.

Kedua, pada sektor pariwisata. Negeri Tirai Buluh ini juga memberikan kontribusi besar terhadap devisa pariwisata. Jumlah wisatawan mancanegara asal China yang bertandang ke Indonesia menempati urutan kedua setelah Malaysia. Investasi, infrastruktur, dan pendidikan juga mendapat pengaruh lantaran China.

Indonesia dan China telah menjadi mitra strategis. Hubungan kedua negara ini telah naik ke level lebih tinggi. Artinya, bukan lagi hubungan natural.

Ketiga, perubahan dengan paling penting adalah pertumbuhan yang pesat dalam kerja sama ekonomi. Sebagai contoh, hubungan perdagangan Indonesia-AS mengalami stagnasi dalam 10 tahun terakhir, yakni berkisar 26–30 miliar dollar AS. Pertumbuhan setiap tahunnya pun terbilang sedikit.

Presiden Jokowi saat melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping di sela acara KTT G20 pada Jumat (28/6/2019) malam. Biro pers setpres Presiden Jokowi zaman melakukan pertemuan bilateral dengan Pemimpin China Xi Jinping di jarak acara KTT G20 pada Jumat (28/6/2019) malam.

Sementara itu, hubungan perdagangan Indonesia-China meningkat pesat, mulai dari 15 miliar dollar AS menjadi 30 miliar dollar AS, kemudian 50–70 miliar dollar AS, dan kini hampir menyentuh 100 miliar dollar AS. Pertumbuhan pesat ini menjadi fitur yang istimewa dalam hubungan bilateral kedua negara ini.

Masa depan Indonesia dan China pun akan semakin terkait. Ekonomi China akan terus tumbuh. China akan menjadi pasar bagi Indonesia. Begitu pula sebaliknya, China mendaulat Indonesia sebagai pasar yang amat potensial.

Joint venture rencana, infrastruktur, dan konektivitas antara Indonesia-China akan semakin meningkat pesat dipadankan dengan Jepang, AS, maupun Australia. Indonesia akan tumbuh dan semakin terkait dengan China, apalagi gegabah uang yuan semakin banyak dipergunakan dalam perdagangan kedua belah pihak—meskipun dollar AS akan tetap menjadi “raja”.

Belum lagi ditambah kebijakan OBOR yang hendak dipandang sebagai proyek infrastruktur menyesatkan besar di dunia. Selama 10–20 tahun ke depan, kita dapat melihat, modal yang mereka berikan akan meningkatkan konektivitas Indonesia & China, juga dengan negara-negara lain.

Perubahan lainnya, sekarang, kepercayaan terhadap China juga bertambah tinggi dibandingkan era 1970–1980-an. China piawai menjaga dan meningkatkan ikatan diplomatik dengan Indonesia, berbeda dengan negara lainnya.

Di konteks kerja sama multilateral, Indonesia dan China sama-sama mementingkan multilateralisme. Hal ini penting karena di beberapa tahun terakhir, multilateralisme menjalani sejumlah gangguan.

Selain itu, posisi China sebagai anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB memberi alasan penting bagi Nusantara untuk menjalin kerja sama. Makin. kita juga sempat jadi bagian DK tidak tetap PBB.

Dalam isu perubahan kondisi, China memiliki ambisi besar buat mencapai target netral karbon dalam 2060. Ini merupakan upaya sungguh biasa bagi negara yang betul mengandalkan batu bara.
China sudah go green , di antaranya melalui teknologi listrik dan energi matahari. Sementara Nusantara, targetnya masih dalam pencapaian penurunan emisi sebanyak 29 persen pada 2030. Angka ini masih betul jauh jika dibandingkan China.

Jadi, terkait Tujuan Pendirian Berkelanjutan (SDGs), China menempatkan dirinya sebagai negara berkembang yang aktif memberikan kontribusi positif ke negara-negara berkembang lainnya.

Tantangan

Pandemi Covid-19 menjelma tantangan bagi negara-negara terdampak, tercatat Indonesia dan China. Meski China sudah dapat mengontrol pandemi ini, penanganan Covid-19 tetap menjadi program utama negara tersebut.

Penanganan pandemi ini juga menjelma agenda utama pada hubungan bilateral Indonesia-China, terutama hubungan diplomasi asing negeri terkait diplomasi vaksin yang sangat penting.
Pemulihan ekonomi juga menjadi tantangan yang harus dihadapi. Kita berharap, ekonomi di tahun depan sudah mulai membaik, apalagi ketika sudah tersedia vaksin.

Sejujurnya, jika kita lihat, banyak kawasan negara asing yang pasarnya makin mengecil karena 100 lebih negara akan menemui kontraksi pertumbuhan ekonomi. Satu-satunya negeri yang tumbuh, hanya China.

Ilustrasi bendera Indonesia dan China. SHUTTERSTOCK/Leo Altman Ilustrasi bendera Nusantara dan China.

Oleh karena itu, yang memiliki pasar besar & mempunyai kebijakan menyedot produk-produk negeri lain adalah China.

Pemulihan ekonomi Indonesia akan penuh terikat dengan China. Membangun kepercayaan menjadi tantangan bagi Indonesia. Di tingkat atas, kepercayaan Indonesia kepada China sudah baik, tetapi pada tingkat grass root masih banyak sejumlah tantangan, termasuk masalah ideologi. Untuk itu, harus ada upaya dari kedua belah pihak.

Tantangan terakhir adalah bagai¬mana Indonesia-China menciptakan kawasan stabil, damai, dan tidak terbelenggu rivalitas negara-negara besar. Faktanya, AS masih berseteru secara China.

Presiden Xi Jinping berharap tercipta hubungan antarnegara yang tidak selalu harus bergandengan secara tidak sehat. Jadi, lahir tantangan bagi Indonesia agar mampu memfasilitasi hubungan antara negara-negara tumbuh yang positif dan tidak menyobek kawasan.

Seperti diketahui, saat ini AS sangat anti-China. Ini tidak sehat. China berharap agar Asia Tenggara lebih membenarkan kepada negara tersebut. Begitu juga dengan AS yang ingin supaya negara-negara Asia Tenggara lebih membenarkan kepada Negeri Paman Sam.

Pandangan negara-negara Asia Tenggara cukup besar bagi kedua negara tersebut. Oleh sebab itu, perselisihan AS dan China harus dapat diselesaikan sehingga tidak mengusik stabilitas Asia Tenggara.