Robohnya Pohon Beringin di Jumat Kelabu

Robohnya Pohon Beringin di Jumat Kelabu

Uncategorized

AKAR -akarnya yang dulu kokoh

Kini semakin rapuh dimakan menular

Rindangnya ranting dedaunan

Saat ini tidak mampu lagi menyelubungi

Kesan kuatmu dulu

Kini ambruk menunggu waktu

Termakan keropos rasuah para elit

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Masihkah pohon itu seimbang berdiri?

 

Pada setiap kabung peristiwa, entah mengapa hamba selalu terinspirasi untuk memproduksi puisi. Puisi spontan tersebut saya beri judul “Robohnya Pohon Beringin”.

Walau saya bukan simpatisan Partai Golkar, tetapi kami ikut prihatin dengan penjemputan “paksa” Wakil Ketua Jawatan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) Azis Syamsuddin oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Beberapa tarikh terakhir ini, sejumlah pilihan Partai Golkar silih berganti mengenakan rompi oranye seusai dicokok lembaga anti rasuah itu.

Baca juga: Sederet Petunjuk Penangkapan Azis Syamsuddin…

Azis dengan juga Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini awal dijadwalkan diperiksa Jumat, 24 September 2021, dengan kehormatan tersangka untuk kasus Uang Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Lampung Tengah.

Seperti halnya dengan pemanggilannya jadi saksi dalam kasus gratifikasi yang menjerat penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju, pemanggilan dari KPK selalu “dihindari” oleh Azis. Entah berargumen sakit, berhalangan karena tugas parlemen, dan terakhir sebelum dijemput paksa mengaku padahal tengah isolasi mandiri sebab pernah berinteraksi dengan orang lain yang suspect Covid-19.

Seperti lazimnya “Jumat Kelabu” di KPK bagi para tersangka dengan biasanyavberujung pada penahanan, Azis terkesan menggunakan senjata isolasi mandiri untuk mengulur-ulur periode. Surat resmi yang dikirimkan Azis ke KPK untuk menunda pemeriksaan hingga agenda 4 Oktober mendatang tidak digubris KPK. Apalagi tangkisan tengah isolasi mandiri terpatahkan seusai pemeriksaan swab antigen oleh KPK dinyatakan negatif.

Membaca juga: Fakta Azis Syamsuddin Jadi Tersangka Korupsi, Memiliki Harta Miliaran dan Ucapan Warga

Penjemputan paksa Mantan Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) periode 2008 – 2011 tersebut mengakhiri berbagai keterlibatan Azis di kasus-kasus mega rasuah yang selalu berhasil lolos dan terkesan “tidak terjamah hukum”. Posisi Azis dengan pernah menjadi pimpinan Tip III DPR yang membidangi Hukum, HAM dan Kesejahteraan serta Badan Anggaran DPR menjadikan Azis untouchable & powerful .

Nama Azis mulai muncul di latar seusai disebut menjadi perantara pertemuan Wali Kota Semenanjung Balai M Syahrial secara Robin. Syahrial berkepentingan agar kasus penyelidikan dugaan terjadinya kasus korupsi di Pemerintahan Kota Tanjung Balai yang tengah dilakukan KPK tidak dinaikkan statusnya ke pemeriksaan. Sama dengan Azis, Syahrial juga berasal dari Golkar (Kompas. com, 23/4/2021).

Dari titik inilah, nama Azis semakin terang-benderang keterkaitannya dengan kasus-kasus yang lain. Apalagi di persidangan Stepanus Robin Patuju, nama Azis disebut menjadi perantara rajin dan rumah dinasnya di Jalan Denpasar Raya, Kuningan, Jakarta, dijadikan locus delicti penyerahan uang suap.

Baca serupa: Nama Azis Syamsuddin di Pusaran Kasus Korupsi…

Tidak itu saja, Azis juga berlaku aktif menjadi mediator transaksi penyelamatan aset sitaan kasus korupsi Mantan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari yang tengah mendekam di Penjara Wanita Tangerang, Banten, dengan Robin. Rita yang juga kader Golkar itu tahu mengeluarkan dana Rp 5, 2 miliar untuk Robin dan pengacara Maskur Husain (Bisnis. com, 13 September 2021).

Azis diduga terkait korupsi pembangunan Kawasan Pusat Kegiatan Pengembangan dan Pembinaan Terpadu Sumber Daya Manusia Kejaksaan dengan berlokasi di Ceger, Jakarta Timur pada 2012. Selain itu, Azis juga diduga membantu eks Bendahara Ijmal Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin meloloskan usulan proyek Kejagung sebesar Rp 560 miliar di Komisi III DPR. Dari Nazaruddin, Azis diduga menerima fee 50. 000 dolar AS.

Dalam pengadaan simulator Surat Izin Mengemudi (SIM) 2013, Azis diduga menerima uang dari Ajun Kombes Teddy Rusnawan atas perintah Kakorlantas Polri Irjen Djoko Susilo. Pada 2017, Azis sempat dilaporkan ke Majelis Kehormatan Dewan (MKD) DPR sebab diduga meminta uang pungut sebanyak 8 persen kepada Mantan Bupati Lampung Pusat Mustafa terkait proyek KEINGINAN Lampung Tengah.

Terakhir nama Azis hidup lagi dalam perkara Mantan Kadiv Hubungan Internasional Polri Irjen Napoleon Bonaparte. Red notice yang dikeluarkan Napoleon untuk Djoko Tjandra tak terlepas dari saran Azis juga (Tirto. id, 24 September 2021).